Pages

About

Rabu, 18 Februari 2009

Masyarakat Urban Yang Terkesampingkan

Gemerlapnya kehidupan kota yang serba ada menjadikan masyarakat kota (urban) menjadi masyarakat massa. Dimana segala macam produk industri massa secara jelas dikonsumsi basar-besaran, mall-mall dijadikan tempat transaksi yang nyaman sehingga kalau orang berbelanjah disitu lebih nyaman dan leluasa serta tidak usah capek-capek naik tangga karena setiap mall pasti menyediakan lift atau eskalator dan menikmati dinginnya ruangan yang berAC. Mungkin kenyataan seperti itu tidak senyaman dengan kondisi di pasar-pasar tradisional atau warung-warung klontong yang ada di sudut pojok kampung.

Jadi peran industri massa di dalam masyarakat urban sangatlah berpengaruh terhadap pola hidup masyarakat urban. Demi mendapat keuntungan yang banyak maka industri massa atau kapitalisme menekan biaya produksi menjadi lebih rendah dan produk yang dihasilkan bisa lebih banyak dengan cara mengganti tenaga manusia menjadi tenaga mesin. Yang terkena imbasnya disini adalah pemecatan kaum terhadap buruh.
Peran kapitalisme disini memang sangat kuat. Pada zaman kapitalisme akhir yang ditandai dengan ekonomi konsumsi, tak ada forma retorik yang lebih tangguh dari pada forma-forma yang fabricatet dalam iklan. Dan persoalan sosial yang menonjol kini di dalam diskursus kapitalisme bukanlah konflik sosial yang tersembunyi di balik relasi konsumsi dan produksi, akan tetapi persoalan hanyutnya kapitalisme (global)-bahkan termasuk para pekerjanya-kedalam gemerlapnya tanda-tanda (image, kejutan, display, gaya hidup, prestise, hiperealitas) serta seronoknya arus hawa nafsu dan energi libido (bujuk rayu, keterpesonaan, erotisme, sensualitas, sensitivitas) yang tengah bergerak menuju ke arah titi-titik ekstrimnya.
Kemudian lewat produk industri massa tersebut akan tercipnya konsumsi besar-besaran. Dimana dalam masyarakat urban terdapat masayarakat massa, dan mau tidak mau setiap hari kita dihadapkan barang-barang yang serba baru mulai dari barang-barang elektonik, makanan, dan banyak lagi. Secara otomatis kita yang hidup dalam satu dimensi dan ruang yang sama akan ikut ke dalam arus yang sama, arus konsumerisme.Kunci masyarakat konsumen adalah tumbuhnya kepentingan media massa, khususnya televisi. Televisi tidak hanya melayani periklanan dari hasrat-hasrat masyarakat konsumen. Tetapi televisi memborbardir masyarakat dengan citraan-citraan yang bermacam-macam yang secara dramatis mengubah kehidupan mereka. Artinya pengaruh media massa memang sangat berpengaruh dalam tatanan kehidupan sosial kita. Media massa tidak hanya memberi informasi tapi juga menyumbangkan pengaruh terhadap kita.
Dalam masyarakat konsumerisme kita tidak bisa terlepas dari produk massa yang satu ini, yaitu McDonald’s. Penulis mencoba membedah sedikit tentang produk massa yang satu ini. Karena bagi penulis fenomena McDonald’s sangat menarik untuk diperhatikan. Hanya saja bukan makanan, hamburger, kentang goreng, dan semacamnya yang hendak kita bicarakan, melainkan sebuah reproduksi kebudayaan: sebuah konteks kebudayaan dalam proses pengembangbiakan apa yang disebut sebagai kebuyaan massa. Kita bisa melihat bagaimana kekuatan McDonal’s yang bisa menghipnotis jutaan manusia untuk menciptakan gaya hidup, gak keren kalau kamu belum pernah makan ke McDonald’s, orang elit akan memilih pergi ke McDonald’s dari pada angkringan, gak gaul deh kalau kamu belum pernah merasakan nikmatnya hamburger. Dalam realitasnya memang seperti itulah anggapan-anggapan masyarakat urban dalam prakteknya.
Lewat produk massa inilah kemudian menciptakan budaya massa, produk seperti hamburger adalah hasil budaya baru dari banyaknya produk massa. Lewat standarisasi konsumen, McDonald’s menciptakan ramuan khusus supaya makanan buatannya bisa dikonsumsi secara universal. Tidak hanya rasa yang distandarkan tapi juga menyangkut design sajian, kenyamanan pengunujung, serta ramah senyum para pramusajinya.Mengunjungi markas McDonald’s serentak melihat bukan saja kompleksitas struktur organisasi dan pengendalian usaha dibalaik restoran-restoran yang bisa dijumpai dimana-mana ini, tetapi juga terbesit tema pokok: McDonald’s tidak hanya membikin makanan, tetapi “mencetak manusia”, tidak hanya menciptakan hamburger, tetapi kebudayaan, dia bukan hanya urusan perut, tetapi gaya hidup.
Melihat fenomena masyarakat urban di atas setidaknya diskripsi tersebut bisa dijadikan penjelasan singkat. Tapi setiap fenoma pasti memiliki konter tersendiri untuk memberi perlawanan secara ideologis. Kita bisa mengetahui munculnya subkultur Punk pada awal tahu 70-an di Inggris sebagai konter terhadap budaya elit kaum kapitalis. Di Indonesia sendiri baru akhir 70-an subkultur ini muncul. Fenomena inilah yang memberi warna terhadap masyarakat urban. Dan ini menunjukkan bahwa hegemoni budaya kapitalisme tidak berlaku bagi ideologi subkultur.
Biasanya perlawanan subkultur tersebut lewat penampilan, mulai dari pakaian, gaya rambut, dan asesoris tertentu. Menurut Clarke, subkultur remaja dapat diidentifikasikan dari sistem simboliknya, yaitu pakaian, musik, bahasa, dan penggunaan waktu luang. Dan menurut Hebdige (1976) menyatakan bahwa gaya merupakan bentuk komunikasi yang disengaja dan bermaksud mencoba berkomunikasi melalui penampilannya. Gaya juga merupakan tanggapan manusia terhadap lingkungan sosialnya.
Fischer juga menjelaskan bahwa pembentukan subkultur yang aktif harus didasari oleh jumlah pendukung yang cukup memadai. Jumlah yang memadai memungkinkan terbentuk dan terdukungnya berbagai macam pranata, perkumpulan, dan toko-toko khusus yang melayani komunitasnya. Hal itu juga memungkinkan mereka memiliki identitas yang terlihat jelas dan diakui untuk bertindak bersama demi diri mereka sendiri dan untuk berinteraksi secara intensif satu sama lainnya.Dari penjelasan di atas tersebut penulis ingin melukiskan segala ide dan fenomena yang sudah dijelaskan diatas, khususnya masyarakat urban. Dimana apa yang dilukiskan nantinya adalah perwujudan dari pengalaman penulis saat berada di tengah kerumunan masyarakat urban

1 komentar:

  1. mengurbankan masyarakat justru menjadi kelemahan pemerintah dalam meningkatkan IPM dalam satu daerah.. perlu kajian mendalam

    BalasHapus

Dosen PLS UNJ

Dosen PLS UNJ